Shalahuddin Al-Ayyubi dan Baitul Maqdis
Ditulis oleh Admin pada 24 November 2011 |  Biografi | 
RumahTerjemah.com 
Rumah Terjemah melayani terjemah bahasa Arab, Inggris, Buku, Skripsi, Tesis, dll.
Bandingkan Daftar Harga kami..!

Bagaimana sikap umat Islam ketika Masjid Al-Aqsha diserang? Kemana para mujahid? Ada apa dengan kaum muslimin? Tidak kah merasa terusik, seperti terusiknya pendeta Kristen bernama Peters Amiens, tatkala Baitul Maqdis dianggap telah dikuasai umat Islam pada tahun 1094. Sampai-sampai ia membangkitkan semangat raja-raja Kristen di Eropa agar segera merebut tanah suci itu, lalu menduduki dan menguasainya.

Diprovokasinya Kaisar Elexius Komeninus dari Byzantium (Konstantinopel) oleh Peter Amiens, agar waspada terhadap kemungkinan kekuasaan Islam Saljuk menguasai imperium konstantin yang besar itu. Kaisar pun terprovok, lalu menyampaikan permohonan kepada Paus Urbanus II agar segera mengeluarkan perintah suci kepada raja-raja di benua Eropa untuk mengumpulkan kekuatan, merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin. Ringkasnya, Paus mengabulkan permohonan itu. ”Deus La Volts” (Demikianlah kehendak Tuhan). Seperti itulah seruan ”jihad suci” dari mulut sang Paus, sebagai sebagai tanda dimulainya Perang Salib.

”Fatwa” Paus yang terkenal adalah: ”Barangsiapa yang bersedia masuk dalam angkatan perang suci itu, akan diampunilah sekalian dosanya, kecil ataupun besar.” Perang Salib I (1097-1099) pun diberi keistimewaan sebagai penebus dosa. Prancis, Bourgandia dan Normandia adalah bangsa Eropa pertama yang mendaftarkan diri sebagai ”relawan jihad”. Mereka dipimpin oleh raja dan kaum bangsawan, seperti Godfrey dari Bourgandia, Duke dari Loftharingen dan sebagainya. Hampir 100 ribu tentara yang tergabung dalam pasukan itu.

Dari Konstantinopel, mereka melancarkan serangan ke negeri-negeri Islam, lalu Palestina sebagai tujuan akhir. Pada tahun 1099 M (492 H), terkepunglah tanah suci Palestina dengan kekuatan 40 ribu tentara yang tersisa, sedangkan tentara Mesir yang mempertahankan kota hanya seribu orang saja. Setelah pengepungan selama 15 hari jatuhlah pertahanan kota dan masuklah tentara Salib ke Baitul Maqdis (Palestina).

Saat Palestina ditaklukkan kaum salib, umat Islam mendapatkan perlakuan keji yang sulit dilupakan. Ahli-ahli sejarah perang salib mengakui terjadinya kebiadaban itu: orang Islam dipaksa menjatuhkan diri dari puncak benteng, dibakar hidup-hidup, ditarik ke jalan raya dengan kuda-kuda perang mereka sampai mati, kemudian mayatnya ditumpuk seperti menimbun sampah.

Ini sekadar gambaran, bahwa kaum Salibis saja begitu terusik ketika Baitul Maqdis yang diklaim sebagai tanah suci mereka, lalu dengan segera dibentuk angkatan perang salib hingga tiga gelombang. Seharusnya, kaum muslimin di seluruh negeri bangkit, lebih bersemangat untuk tampil sebagai pembela Al Aqsha.

Seruan jihad itu bukan tidak pernah dikumandangkan kaum muslimin. Hanya saja, keberadaan khalifah di Baghdad dibawah kuasa sultan-sultan Saljuk ketika itu sedemikian lemahnya, sehingga yang tinggal hanya gelar khalifahnya saja, sedang kekuasaanya nihil. Ada pula khalifah Fathimiah di Mesir, tetapi tidak berdaya merebut kembali Baitul Maqdis. Saat itu, moral raja-raja Islam berada pada titik terendah, mereka berpecah belah, cakar-cakaran karena berebut kekuasaan. Kebencian itu amat mendalam diantara mahzab Sunni dan Syi’ah. Akibatnya, mereka tidak peduli Baitul Maqdis dikuasai agama lain.

Dalam Perang Salib II tampillah Nuruddin, Asaduddin, dan Shalahuddin, yang tentaranya terdiri dari bangsa Arab, Turki dan Kurdi. Kekuatan ini full menjadi satu. Pasukan muslim ini berhasil menghalau kaum salibis dari Mesir. Tahukah, bagaimana kiat Shalahuddin Al Ayyubi (Saladin) merebut Baitul Maqdis?

Shalahuddin berkeyakinan, untuk berjihad memerangi pasukan salib, ia harus mempersatukan Mesir dan Suria (Syam) terlebih dahulu. Sebab, jika pecah sulit bagi pasukan Islam mengusir musuh. Mesir yang sebelumnya diperintahkan kerajaan Fathimiyah yang berpaham Syi’ah, dan Syam berpaham Sunnah. Oleh Shalahuddin disatukanlah Mesir dan Syam dengan mahzab Syafi’i, sehingga keduanya menjadi sejalan dibawah komando Shalahuddin. Yang menarik, Shalahuddin pun memerangi kaum Ismailiah atau Bathiniah yang sangat merugikan Islam.

Mesir dan Syam pun tunduk dibawah titah Shalahuddin. Sejumlah ekspedisi militer dilakukan sebagai tahapan merebut kembali Baitul Maqdis. Ketika itu Shalahuddin memerintahkan abangnya Tauran Syah pergi menaklukkan Yaman, termasuk Hijaz (Makkah-Madinah) lebih dulu takluk dibawah Mesir yang dipimpin Shalahuddin.

Pada tahun 1175, atas permintaan Shalahuddin, khalifah di Baghdad mengeluarkan keputusan: mengakui Shalahuddin sebagai penguasa bagi negeri Mesir, Maghribi, Naubah, Jazirah Arab bagian Barat, Palestina dan Syiria tengah. Dari pengalamannya bertempur, Shalahuddin mempelajari penyebab keruntuhan dan kekalahan Islam selama ini, diantaranya adalah perpecahan para raja dan pemimpinnya. Yang satu ingin kejatuhan yang lain, agar berkuasa sendiri. Sebab lainnya adalah akibat pengkhianatan wazir di Mesir, yang sudi berhubungan rahasia dengan pihak musuh, asal mereka mendapat jaminan kekuasaan.

Mengapa Shalahuddin memerangi raja-raja Islam? Beliau yakin bahwa Amir-amir (Gubernur) ini tidak akan kuat bertahan menghadapi tentara Salib, apalagi jika tidak ada kesatuan komando. Dikhawatirkan, para amir itu akan meletakkan senjatanya dan membuat perdamaian sendiri dengan musuh. Yang ada dalam otaknya adalah harta dan tahta tetap ada dalam genggamannya.

Teori perang Shalahuddin itu terbukti di kemudian hari, ketika Raja Abdullah dari bangsa Arab, membuat perdamaian sendiri dengan opsir tinggi Inggris, saat perang sedang berkecamuk. Bukankah ini pengkhianatan. Karena itulah, Shalahuddin lebih dulu membersihkan raja-raja Arab sebelum ia menghadapi musuh sesungguhnya: Kaum Salib.

Satu hal yang menjadi faktor kemenangan adalah membangun kepribadian dari seorang pemimpin dan para mujahid. Ada kesadaran dalam diri Shalahuddin, bahwa sebelum dia mempersatukan orang lain, ia harus mempersatukan pribadinya dengan Tuhan. Sebelum dia menyuruh orang lain berdisiplin diri, ia harus lebih dulu mendisiplinkan diri. Intinya, ia harus menundukkan dirinya sebelum menundukkan musuhnya.

Shalahuddin seperti sedang mengingatkan, yang datang ini adalah Raja-raja Eropa, bukan raja sembarangan. Mereka adalah musuh yang paling kuat persenjataan dan pasukannya. Tanda Salib saja bisa membangkitkan semangat juangnya. ”Apa arti perjuangan Islam, kalau pemimpin peperangan melawan musuh Islam itu bukan seorang muslim sejati? Rahasia kemenangan Nabi Muhammad Saw dalam segala peperangan adalah karena kekuatan iman dan kesabaran,” demikian (alm) Buya Hamka pernah berujar.

Kepribadian dan kesalehan. Itulah pelajaran pertama yang harus dimiliki tentara Allah. Shalahuddin adalah teladan bagi pasukannya. Shalatnya selalu berjamaah, puasa setiap Senin-Kamis tak pernah ditinggalkan, sekalipun sedang dalam pertempuran. Ia senang sekali mendengarkan qari membaca Al Qur’an, bahkan kerap menangis saat menyimaknya. Di malam peperangan pun, ulama-ulama hadits diminta membacakan beberapa hadits dihadapannya. Hebatnya, Shalahuddin jarang sekali meninggalkan shalat Tahajjud.

Selain menyiapkan pasukan, persenjataan, strategi dan diplomasi yang jitu, setiap mujahid harus melatih mental dan kepribadiannya secara vertikal. Inilah yang menjadi modal utama tentara Allah kala menghadapi musuh yang kuat tentara dan persenjataannya. Al Aqsha pun dapat direbut kembali ke pangkuan kaum muslimin. ■ Desastian