Memahami Novel Asli atau Terjemahan
Ditulis oleh Admin pada 26 November 2010 |  Kliping | 
RumahTerjemah.com 
Rumah Terjemah melayani terjemah bahasa Arab, Inggris, Buku, Skripsi, Tesis, dll.
Bandingkan Daftar Harga kami..!

Memahami Novel Remaja ( Asli atau Terjemahan )
Novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang panjang dan luas.
Adapun ciri pokoknya adalah sebagai berikut.
Memiliki alur/ plot yang kompleks. Berbagai peristiwa ditampilkan saling
berkaitan sehingga novel dapat bercerita panjang lebar, membahas persoalan
secara luas dan lebih mendalam.
Tema dalam novel tidak hanya satu, tetapi muncul tema-tema sainpingan.
Oleh karena itu, pengarang dapat membahas hampir semua segi persoalan.
Tokoh/karakter dalam novel bisa banyak. Dalam novel, pengarang sering
menghidupkan banyak tokoh cerita yang masing-masing digambarkan secara
lengkap dan utuh. Dalam novel terdapat tokoh statis dan tokoh dinamis.
Tokoh statis adalah tokoh yang tidak berubah wataknya dalam cerita. Adapun
tokoh dinamis adalah tokoh yang mengalami perubahan selama cerita
berlangsung (misalnya, dari tokoh jahat menjadi tokoh yang baik).

Menurut Jakob Sumardjo (1984: 67-68) terdapat beberapa jenis novel, yakni
sebagai berikut.
Novel Kejadian

Dalam novel ini, plot atau alur cerita sangat dipentingkan pengarang.
Novel ini menitik beratkan pada perkembangan kejadian yang biasanya penuh
ketegangan dan kejutan.
Novel Watak

Novel ini menekankan unsur karakter atau watak pelakunya. Pengarang ingin
menggambarkan watak tokoh sehingga seluruh kejadian dalam novel sangat
ditentukan oleh watak tokoh-tokohnya.
Novel Tematis

Novel yang menekankan pada unsur tema. Misalnya, tema politik, sosial,
atau keagamaan. Selain pembagian tersebut, ada juga jenis novel populer.
Novel populer ditulis menurut suatu pola atau syarat-syarat yang tetap.
Termasuk jenis novel ini adalah novel detektif, novel kriminal, novel
Islami, novel remaja, dan sebagainya.

Untuk dapat memahami novel remaja, baik asli maupun terjemahan, kita harus
membacanya terlebih dahulu. Kemudian, kita analisis berdasarkan
unsur-unsur intrinsiknya.
Berikut contoh kutipan novel terjemahan.

Kursi Perak
(Kisah dari Namia)
Di suatu hari yang amat panas di tengah musim gugur, tampak Jill Pole
sedang menangis di belakang aula sekolah. Seperti biasa, karena diganggu
teman-temannya. Karena ini bukanlah sebuah cerita sekolahan maka akan
kuceritakan sedikit saja tentang sekolah Jill, yang memang bukan sebuah
bahan cerita yang menyenangkan. Merupakan sebuah sekolah yang menerima
anak lelaki maupun wanita, yang di Inggris disebut sekolah campuran,
walaupun tak secampur aduk pikiran pengelolanya.

Mereka punya gagasan untuk membiarkan semua anak melakukan apa saja yang
di sukai. Sayangnya, yang disukai beberapa anak yang lebih besar adalah
mengusik anak-anak lainnya. Segala hal, segala yang menyebalkan, yang di
sekolah-sekolah lain pasti akan diusut atau dicegah setengah jalan, di
sini boleh saja dilakukan. Dan kalaupun diusut, para pelakunya tak akan
dihukum atau diapa-apakan. Kepala Sekolah hanya akan menganggapnya sebagai
kasus psikologis yang menarik dan memanggil si pelaku untuk berbincang
selama berjam-jam. Dan bila kau bisa menyampaikan sesuatu dengan tepat,
kau akan semakin disukai oleh Kepala Sekolah.

Itulah yang membuat Jill Pole menangis pada siang hari itu di sebuah jalan
setapak yang becek di antara ruang senam dan semak-semak. Ketika ia belum
lagi hendak menyelesaikan tangisnya, muncullah seorang anak dari sudut
ruang senam seraya bersiul-siul bersaku tangan. Anak itu hampir saja
menabraknya.

“Lihat-lihat dong, kalau jalan!” sergah Jill Pole sengit.

“Oh,” jawab anak itu, “gitu saja ngamuk” dan tampak olehnya bahwa gadis
itu memerah. “Eh, Pole”, katanya, “Kau kenapa?” Jill hanya menjebik,
seperti yang kau lakukan bila hendak mengucapkan sesuatu tapi tahu bahwa
begitu kau ucapkan sepatah kata, air matamu akan kembali ambrol seketika.

“Mereka lagi, pasti,” tebak anak itu gemas sambil menyusupkan tangannya
lebih dalam ke saku celananya. Jill mengangguk. Tak perlu lagi mengucapkan
sesuatu, kalaupun ia bisa. Mereka berdua sudah sama-sama maklum.

“Nah, sudahlah,” kata anak lelaki itu. Sebetulnya ia bermaksud baik, namun
karena nada ucap-annya yang seperti hendak berkhotbah, membuat kegusaran
Jill meluap seketika (seperti biasa kau rasai juga bila terpotong ketika
sedang enak-enak menangis).

“Huh! Pergi sana!”, “Usil amat,” usir gadis itu. “Tak ada yang memintamu
membujukku, bukan? Memangnya kau sendiri sudah hebat? Kurasa kau pun akan
mengatakan agar kita berbaik-baik pada mereka, mengikuti semua mau mereka,
dan memikat perhatian mereka, seperti yang sering kau lakukan. Begitu
bukan?”

“Ya, Tuhan!” kata anak lelaki itu seraya duduk di sebuah gundukan berumput
di dekat semak-semak, dan segera terlompat lagi bangkit karena rerumputan
itu basah. Sayangnya ia bemama Eustace Scrubb, walaupun ia bukan anak
nakal.

“Pole!” katanya. “Bukankah aku sudah membela Carter dalam urusan kelinci
kemarin? Dan bukankah aku tetap menutup mulut dalam soal Spiwin tempo
hari?” Scrubb tahu gadis itu belum pulih kembali dan dengan sangat sabar
ia menawarinya sebiji permen. Dia masih punya satu lagi. Akhimya, Jill
mulai bisa kembali memandang dunia dengan cerah.

“Maafkan aku, Scrubb,” kata gadis itu akhimya. “Saya tidak adil. Kau
memang sudah cukup baik triwulan ini.”

“Kalau begitu lupakanlah triwulan yang lalu, kalau bisa,” kata Eustace.
“Aku sudah berubah. Dulu, wah! Betapa menyebalkannya aku.”

“Yah, terus terang saja, dulu kau memang menyebalkan,” kata Jill.

“Menurutmu, sekarang sudah berubahkah aku?” tanya Eustace.

“Bukan hanya pendapatku,” jawab Jill. “Yang lain pun berpendapat demikian
pula Mereka memerhatikanmu. Si Eleanor Blakiston mendengar Adela
Pennyfather mengatakannya di ruang ganti, kemarin. Katanya, “Ada yang
sudah mempengaruhi si Scrubb cilik. Dia jadi agak susah diatur triwulan
ini. Kita harus segera beri dia pelajaran.”

Eustace mengangkat bahu. Semua anak di Sekolah Percobaan itu tahu apa
artinya ‘diberi
pelajaran’ oleh mereka. Kedua anak itu terdiam sejenak. Setetes air
menetes dari daun palem.

“Kenapa kau jadi begitu berbeda dengan triwulan kemarin?” kata Jill
akhirnya.

“Banyak hal-hal aneh yang kualami selama liburan yang lalu, “kata Eustace
penuh teka-teki’

“Keanehan apa?” Tanya Jill. Beberapa saat Eustace tak berkata sepatah pun.
Lalu katanya:

“Begini, Pole. Kau dan aku sama-sama tak menyrkai tempat ini, bukan?”

“Ya, memang,” jawab Jill.

“Jadi kupikir aku bisa benar-benar mempercayaimu.”

“Teruskan1ah,” kata Jill.

“Ya, tapi ini benar-benar amat rahasia. Pole, bolehkah kutanya, percayakah
kau pada hal-hal gaib? Maksudku, hal-hal yang mungkin akan ditertawakan
semua orang?”

“Aku belum pemah mengalaminya,” kata Jill,

“tapi kurasa aku akan percaya.”

“Percayakah kau bila kukatakan bahwa aku meninggalkan alam kita ini -Dunia
ini-sewaktu liburan yang 1a1u?”

“Aku belum menangkap maksudmu.”

“Kalau begitu jangan pusing-pusing tentang dunia, deh. Kalau kukatakan
bahwa aku sudah ke tempat di mana binatang bisa bicara dan eh -dan- ada
sihir dan naga dan segala macam hal yang hanya pemah kau dengar dalam
dongeng.” Tampak sekali betapa Scrubb salah tingkah sendiri ketika
menyampaikan hal itu, dan wajahnya membersit merah.

Karya C. S. Lewis

Unsur Intrinsik

Unsur-unsur yang terkandung dalam prosa ( cerpen dan novel) terdiri atas
dua bagian, yakni unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik
merupakan unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Untur intrinsik
meliputi tema, Iatar (set-up), sudut pardang (point of view), alur,
penokohan, gaya bahasa, dan amanat.

Adapun unsur ekstrinsik merupakan unsur di luar karya sastra, namun sangat
berpengaruh terhadap karya sastra tersebut. Misalnya, latar belakang
sosial budaya pengarang, keadaan masyarakat, lingkungan keagamaan, dan
pengalaman pengarang.

Berikut penjelasan mengenai unsur intrinsik.
Tema

Tema adalah pokok permasalahan sebuah cerita, makna cerita, gagasan
sentral, atau dasar cerita. Istilah tema sering disamakan pengertiannya
dengan topik, padahal kedua istilah ini memiliki pengertian yang berbeda.
Topik dalam suatu karya adalah pokok pembicaraan, sedangkan tema adalah
gagasan sentral, yakni sesuatu yang hendak dipequangkan dalam dan melalui
karya fiksi. Tema suatu cerita biasanya bersifat tersirat (tersembunyi)
dan dapat dipahami setelah membaca keseluruhan cerita.

Tema fiksi umumnya diklasifikasikan ke dalam lima jenis, yakni:
Tema Jasmaniah
Tema jasmaniah merupakan tema yang cenderung berkaitan dengan keadaan
jasmani seorang manusia. Tema jenis ini terfokus pada kenyataan diri
manusia sebagai molekul, zat, dan jasad. Oleh karena itu, tema percintaan
termasuk ke dalam kelompok tema ini.
Tema Organik
Tema organik diterjemahkan sebagai tema tentang ‘moral’ karena kelompok
tema ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan moral manusia yang
wujudnya tentang hubungan antar manusia, antar pria-wanita.
Tema Sosial
Tema sosial meliputi hal-hal yang berada di luar masalah pribadi, misalnya
masalah politik, pendidikan, dan propaganda.
Tema Egoik
Tema egoik merupakan tema yang menyangkut reaksi-reaksi pribadi yang pada
umumnya menentang pengaruh sosial.
Tema Ketuhanan
Tema ketuhanan merupakan tema yang berkaitan dengan kondisi dan situasi
manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Latar (setting)

Latar atau setting adalah tempat, waktu, atau keadaan yang melatari dan
mewadahi berbagai peristiwa dalam sebuah cerita. Secara garis besar latar
fiksi dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yakni latar tempat, latar
waktu, dan latar sosial.

Latar Tempat
Latar tempat menyangkut deskripsi tempat suatu peristiwa cerita terjadi,
misalnya latar tempat di dalam Kubah, yang menunjukkan latar pedesaan,
perkotaan, atau latar tempat lainnya. Melalui tempat terjadinya peristiwa
diharapkan tercermin pemerian tradisi masyarakat, tata nilai, tingkah
laku, suasana, dan hal-hal lain yang mungkin berpengaruh, pada tokoh dan
karaktemya.
Latar Waktu
Latar waktu mengacu pada saat terjadinya peristiwa dalam plot, secara
historis. Melalui pemerian waktu kejadian yang jelas, akan tergambar
tujuan fiksi tersebut secara jelas pula. Rangkaian peristiwa tidak mungkin
terjadi jika dilepaskan dan perjalanan waktu, yang dapat berupa jam, hari,
tanggal, bulan, tahun, bahkan jaman tertentu yang melatar belakangi.
Latar Sosial
Latar sosial merupakan lukisan status yang menunjukkan hakikat seorang
atau beberapa orang tokoh dalam masyarakat yang ada di sekelilingnya.
Statusnya dalam kehidupan sosialnya dapat digolongkan menurut
tingkatannya, seperti latar sosial bawah atau rendah, latar sosial
menengah, dan latar sosial tinggi.
Sudut Pandang (point of vieuw)

Sudut pandang adalah visi pengarang atau cara pengarang mengambil posisi
dalam cerita. Lazimnya, sudut pandang yang umum dipergunakan oleh para
pengarang dibagi menjadi empat jenis, yakni:

Sudut Pandang First Person.Central (Akuan Sertaan)
Di dalam sudut pandang akuan sertaan, tokoh sentral cerita adalah
pengarang yang secara
langsung terlibat di dalam cerita. Biasanya pengarang menggunakan tokoh
“aku” atau “saya” (orang pertama).

Sudut Pandang First Person Peripheral (Akuan Tak Sertaan)
Sudut pandang akuan tak sertaan, tokoh “aku” biasanya hanya menjadi
pembantu atau pengantar tokoh lain yang lebih penting. Pencerita pada
umumnya hanya muncul di awal atau akhir cerita.

Sudut Pandang Third-Personil-Omniscient (Diaan Mahatahu)

Di dalam sudut pandang diaan mahatahu, pengarang berada di luar cerita,
dan biasanya pengarang hanya menjadi seorang pengamat yang maha tahu,
bahkan mampu berdialog
langsung dengan pembaca.

Sudut Pandang Third-Person-Limited (Diaan Terbatas)

Dalam diaan terbatas, pengarang mempergunakan orang ketiga sebagai
pencerita yang terbatas hak berceritanya. Dalam hal ini pengarang hanya
menceritakan apa yang dialami oleh tokoh yang dijadikan tumpuan cerita.
Alur

Alur adalah jalinan peristiwa dalam sebuah cerita yang memiliki hubungan
sebab akibat. Secara sederhana, alur terdiri atas tiga tahapan, yakni
tahap perkenalan, tahap pertikaian (konflik),dan tahap
penyelesaian(endin). Adapun dalam penceritaannya, pengarang biasanya
menggunakan alur maju (alur konvensional) atau alur mundur dengan teknik
kilas (alur konversional)
Tokoh dan Penokohan

Tokoh cerita yang dibuat pengarang biasanya memiliki karakter atau watak
yang khas. Dalam sebuah cerita biasanya jalan cerita akan berpusat pada
tokoh utama. Oleh karena itu, pengenalan watak tokoh utama pada awal
cerita sangatlah penting. Pengenalan watak tokoh dapat dilakukan dengan
dua cara, yakni sebagai berikut.
Cara Analitik
Cara mohtik yaitu penggambaran watak tokoh yang secara langsung diuraikan
oleh pengarang.
Cara Dramatik
Cara dramatik yaitu penggambaran watak tokoh yang tersirat dalam rangkaian
cerita, misalnya melalui deskripsi fisik, deskripsi keadaan sekitarnya,
atau dialog antartokoh.
Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita, tokoh fiksi
dibedakan menjadi dua, yakni tokoh sentral atau tokoh utama dan tokoh
periferal atau tokoh tambahan (bawahan). Karena acapkali sebuah fiksi
melibatkan beberapa tokoh, perlu bagi kita untuk pertama kali menentukan
tokoh sentralnya.
Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya
menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus
didukung oleh pemilihan kata (diksi) yang tepat. Gaya merupakan cara
pengungkapan seseorang yang khas bagi seorang pengarang. Gaya seorang
pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang
lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang
berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala
sesuatu yang ada di sekitamya.
Amanat
Amanat adalah pesan yang disampaikan dalam sebuah cerita. Pesan tersebut
biasanya bersifat implisit sehingga pembaca akan mampu memperoleh pesan
tersebut jika membaca keseluruhan isi ceritanya.[crayonpedia.org]
tag: novel, novel terjemahan, memahami novel, studi novel